Ketika jiwa berbicara, kita harus belajar mendengar.”
Buku ajar ini lahir dari keyakinan sederhana namun
mendalam: bahwa merawat jiwa bukan hanya soal diagnosis,
obat, atau intervensi teknis melainkan soal mendengar,
menghargai, dan berjalan bersama seseorang yang sedang
tersesat dalam gelapnya pikiran dan perasaan.
Di tengah arus pendidikan keperawatan yang semakin
berorientasi pada kompetensi teknis dan protokol klinis, kami
merasa penting untuk mengembalikan inti kemanusiaan dalam
praktik keperawatan jiwa. Di Indonesia sebuah negeri yang kaya
akan keragaman budaya, penderitaan jiwa tidak hanya dijelaskan
melalui neurokimia atau gejala klinis, tetapi juga melalui doa
yang terputus, adat yang dilanggar, rasa malu yang menggunung,
atau rindu yang tak tersampaikan.
Buku ini dirancang khusus untuk mahasiswa S1
Keperawatan, dosen, dan praktisi keperawatan jiwa yang ingin
merawat dengan ilmu, tetapi juga dengan hati. Dengan
pendekatan storytelling, studi kasus nyata, aktivitas reflektif, dan
latihan praktik, kami mengajak pembaca untuk:
• Melihat manusia di balik diagnosis,
• Mendengar suara di balik gejala, dan
• Menghormati budaya di balik perbedaan keyakinan.
4 | M e r a w a t J i w a d a l a m B i n g k a i B u d a y a
Setiap bab mengintegrasikan teori keperawatan jiwa global
(seperti Leininger, WHO, DSM 5) dengan konteks lokal
Indonesia dari konsep rukun di Jawa, taksu di Bali, sengkala di
Sunda, hingga siri’ di Bugis. Semua ini bukan mitos yang harus
dilawan, melainkan kerangka makna yang harus dipahami agar
perawatan bisa sampai ke hati, bukan hanya ke otak.
Buku ini selaras dengan Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI) Level 6–7, Capaian Pembelajaran Lulusan
(CPL), dan Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Berbasis
Pemulihan (Kemenkes RI, 2022). Ia tidak hanya membangun
pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan empati, kesadaran
budaya, dan komitmen pada keadilan sosial.
Kami percaya, perawat jiwa yang hebat bukan hanya yang
menguasai skala penilaian, tapi yang bisa duduk diam,
mendengar, dan berkata dengan tulus:
“Saya di sini, bersamamu.”
Dan di tengah dunia yang semakin cepat, keras, dan serba
digital, kehadiran seperti itu adalah bentuk penyembuhan yang
paling murni. Semoga buku ini menjadi teman setia dalam perjalanan
Anda menjadi perawat jiwa yang berilmu, berhati, dan
berbudaya.
Pasuruan, Oktober 2025
Penulis
“Menginspirasi Dunia Lewat Kata, Membangun Peradaban dengan Ilmu”