Andai Ibu Memilih Jalan Lain Aku Rela
Tak Dilahirkan
“Kalau keberadaanku membuat Ibu
terluka… aku ikhlas tak pernah
lahir.”
Ada kalanya, di tengah malam yang sunyi ketika suara jangkrik
mengisi tidur dan angin berbisik pelan lewat celah jendela aku
bertanya pada diriku sendiri: Apakah keberadaanku benar-benar layak,
jika harganya adalah air mata Ibu?
Aku sering membayangkan dunia yang berbeda. Dunia di mana Ibu
masih muda, masih bebas, masih punya waktu untuk tertawa tanpa
beban. Dunia di mana dia tak perlu memilih antara mimpi dan
kewajiban, antara cinta dan kelelahan. Andai Ibu belum menikah
dengan Ayah. Andai Ibu memilih jalan yang lebih tenang, lebih adil
jalan di mana seorang laki-laki datang bukan untuk dilayani, tapi untuk
berbagi. Untuk saling menopang, saling bukan bersantai.
Bayangkan Ibu bersama lelaki yang memahami arti “lelah” bukan
hanya sebagai kata, tapi sebagai rasa yang menggerogoti tulang. Lelaki
yang tahu bahwa mencuci piring bukan pekerjaan perempuan, bahwa
menidurkan anak bukan hanya tanggung jawab Ibu, bahwa “harga diri
keluarga” bukan diukur dari baju yang wangi dan disetrika rapi,
melainkan dari kehangatan yang tumbuh di meja makan.
Aku membayangkan Ibu tidur nyenyak sampai matahari terbit,
tanpa harus terbangun jam empat pagi demi menyiapkan sarapan
untuk suami yang bahkan tak pernah mengucap terima kasih. Tanpa
harus mendengar dengusan mabuk yang mengoyak ketenangan
malam. Tanpa harus bersembunyi tangis di balik pintu kamar mandi,
agar anak-anaknya aku tidak tahu betapa rapuhnya dia sebenarnya.
Di rumah ini, aku tak pernah merasakan hangatnya pelukan Ayah. Tak
pernah diajari cara memegang palu, cara memperbaiki sepeda, atau cara
berbicara dengan percaya diri. Ayah tak pernah punya kompas untuk anakanaknya
kompas yang menunjukkan mana yang benar, mana yang salah,
mana cinta, dan mana hanya kewajiban kosong. Maka aku mencari arah
pada Ibu. Karena meski kakinya lelah, langkahnya tetap menuntunku
pulang. Meski suaranya serak, ia tetap menyanyikan lagu pengantar tidur.
Meski matanya berkantung, ia tetap tersenyum saat aku pulang sekolah.
Kalau anak-anak lain bertanya, “Ayah, kita mau ke mana?” aku hanya
punya satu pertanyaan: “Ibu, aku harus apa? Ini kenapa?” Karena
bersamamu, Ibu, nyawaku menyala. Hatiku hidup. Dan di dunia tengah yang
terkadang terasa begitu dingin, aku tahu aku tidak sendiri.
Maka, prolog ini bukanlah permulaan cerita tentang kebencian. Ini
adalah surat cinta dari anak yang rela menghapusnya dari takdir, asal Ibu
bisa menulis ulang hidupnya dengan tinta kebahagiaan.
“Menginspirasi Dunia Lewat Kata, Membangun Peradaban dengan Ilmu”